Batu Pinabetengan

Tempat menerima Amanat yang dituakan "Nuwu i Tu'a".

Lesung Nawo Oki

Lesung peninggalan leluhur yang menjadi Identitas anak Suku Tonsawang.

Lesung Nawo Tambanas

Tempat yang dipercayai digunakan untuk Mandi sebelum melakukan pertempuran / berperang.

Sumur Abur

Sumur Abur yang merupakan tempat peninggalan leluhur Suku Tonsawang.

Lesung Nawo Pondalos

Pahasa tampa i manga matu-matua musti kalahan i manga poyog bo hiaha'anio.

Sabtu, 03 Januari 2015

Mengenal Suku Toundanouw/Tonsawang

Sebelum munculnya nama "Tonsawang", masyarakat yang berdiam diantara bagian selatan gunung soputan hingga pegunungan Wulur Mahatus, di zaman purba mereka menyebutkan dirinya "Toundanouw atau Tou-i-ndanouw". Tou artinya orang, i artinya dari/asal, dano artinya air. Orang yang berasal dari air. Yang dimaksudkan adalah orang-orang yang bermukim dibukit-bukit diantara danau yang pada zaman lampau seluruh daerah itu digenangi air atau danau. Setelah danau tersebut dialirkan kearah Negeri Belang, barulah daerah dataran yang tadinya digenangi air menjadi kering, lalu didirikan kampung-kampung seperti sekarang ini. Di samping bukit-bukit diantara danau tersebut, kelompok-kelompok masyarakat juga berdiam disekitar sungai Ranoyapo dan gunung atau bukit-bukit disekitarnya. Pada zaman dahulu, daerah Toundanouw meliputi batas Gunung Soputan sampai dengan daerah-daerah disekitar sungai Ranoyapo. Dengan adanya perubahan-perubahan batas oleh pemerintah Belanda, maka daerah Toundanouw atau Tombatu sekarang tinggal seluas kurang lebih 420 km persegi.

Pada zaman purba, bukit-bukit diantara danau dan sungai tersebut didiami oleh kelompok-kelompok masyarakat kecil yang diberi bermacam-macam oleh pendatang atau orang asing. Ada yang menyebutkan To-en-sawah, Tounsingin, Toulewo, dan Tounda. Nama Toundanouw adalah sebutan yang digunakan oleh orang-orang dari seluruh penduduk didaerah itu jika mereka bertemu satu dengan yang lainnya. Mereka pada umumnya tidak mengenal sebutan Toensawah, tounsingin, Toulewo dan Tounda. Dan sampai sekarang, istilah-istilah itu tidak populer didalam bahasa sehari-hari, mungkin orang-orang asing atau suku-suku lainnya yang menyebutkan orang-orang didaerah ini seperti itu, menurut pengenalan atau pengalaman yang mereka alami ketika bertemu atau berhadapan dengan orang-orang didaerah itu.

Dalam bahasa Toundanouw, yang disebut dengan Tounsingin adalah orang yang disegani (Tou artinya orang, singin dari kata ising artinya disegani atau ditakuti). Toulewo artinya orang jahat/orang bengis (Tou artinya orang, Lewo artinya Jahat/keras/bengis). Tounda artinya orang pemakan ikan (Tou artinya orang, Nda artinya Ikan). Tidak diketahui secara pasti mengapa timbul istilah-istilah tersebut, tetapi mungkin dalam masa lampau pernah terjadi perkelahian dengan orang-orang asing lainnya yang datang kedaerah ini untuk merampas hasil-hasil bumi atau mencoba melakukan perburuan binatang. Sangat mungkin mereka yang kalah dalam perkelahian lalu menyebutkan orang-orang didaerah itu dengan kata-kata atau istilah-istilah tersebut.

Nama Tonsawang adalah nama yang diberikan oleh pemerintah Belanda setelah mereka mengikat perjanjian atau kontrak dengan orang-orang Minahasa lainnya pada tanggal 10 Januari 1679 di Manado. Diantara walak-walak yang disebutkan dalam kontrak itu tercantum nama Tonsaban, yang mungkin ditujukan bagi daerah ini. Seperti disebutkan diatas, orang-orang didaerah ini pada zaman lampau tidak mengenal sebutan Tonsawah dan lain-lain. Menurut tulisan dalam catatan Boeng Dotulong-Diana Franz Rompis dalam Minahasa edite 2, April 1980 di Negeri Belanda, berarti sebagai berikut ; Tonsawang is ontstaan door hun gewoonte amslagenvlees te eten, de sawa of patola. Door ze op te sluiten in uitgeholde nibungstam (Caryota rumphiana, Mrt) en haar dan met geraspte kokosnoot, met te mesten. de patola (Pyton molerus, Dr.B) is in het Toulous "sawa" Tonseas "sawa makiasu", Pakewas Tumetongko" en Tombulus "kumekenan". se bewoonden de plaatsen on net meer van Tombatu en hebben een gorve lichaamsbouw (Minahasa,<van Pijkerenlaan 27 8097 VD Oldebroek, eindredactie Boeng Dotulong Diana Franz Rompis (suatu makalah) (Agustus 1984).

Dari uraian tersebut diatas, tampak menunjukan bahwa Tonsawah dan lain sebagainya itu, tidaklah asli ditemui didalam bahasa Toundanouw. bahasa Toundanouw yang disebut Patola bukan "patola,pakewas tumetongko, atau sawa makiasu ataupun kumeknan". Bahasa Toundanouw yang menunjuk Patola adalah Tupego bukan pakewas tumetongko atau sawa makiasu ataupun kumekenan. Tidak ada istilah itu dalam bahasa asli Toundanouw. Kata Sawang pun tidak dijumpai dalam bahasa Toundanouw pada zaman purba, yang dikenal istilah Mawasawang atau Mawasawa-sawang yang berarti "berteriak-teriak karena sakit atau takut sesuatu seperti melihat ular atau sesuatu yang asing" (Misalnya perasaan anak-anak yang takut menjumpai ular). Sumawang artinya berteriak, Sinawangan artinya tempat berteriak minta tolong. Kata Sawang berarti juga 
  • Sawang-Langit (Ruang diantara langit dan bumi), awang-awang; 
  • rimba sawang artinya rimba yang amat luas; pe(r)sawangan : tempat yang sunyi diantara dusun-dusun, tanah yang luas (yang tidak didiami orang)
  • Sawang juga berarti sarang laba-laba, kotoran yang melekat  di langit-langit rumah, dsb,-
  • Sawang juga berarti tumbuhan untuk obat kurap. (W.J.S. Purwardamita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, cetakan ketiga, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, 1961 hal. 818)
Mengenai penduduk mula-mula yang berdiam di Toundanouw menurut cerita rakyat turun-temurun dikatakan bahwa jauh sebelum Lumimu'ut bermukim didaerah sebelah Barat dan Selatan Toundanouw telah ada orang-orang purba yang digambarkan bertubuh tinggi tetapi tidak terlalu tegap, berambut panjang dan berwajah agak menonjol kedepan, dengan tulang pipi menonjol dan berhidung pesek. Orang-orang tersebut bertempat tinggal di atas bukit-bukit dan hidup berburu dan menangkap ikan. kemungkinan cerita tersebut adalah merupakan penduduk asli sebagaimana yang diuraikan dalam pastingan saya terdahulu. Andaikata cerita tersebut dikaitkan dengan bukit-bukit kerang atau siput atau "kulit Kolombie atau Bia/Renga" yang ditemukan sewaktu pengurukan tanah dari bukit "Dahayu" di Tombatu ketika didirikan Sekolah Guru "B" tahun 1953, maka berarti pada zaman Mesolithicum telah ada orang-orang didaerah itu, yang kurang lebih sama dengan penemuan-penemuan di Sumatera Utara yang juga berasal dari Asia yang datang ke Indonesia umumnya dan Minahasa Khususnya dengan membawa budayanya.

Dengan datangnya orang-orang baru pada kira-kira 2000 SM yaitu pada zaman Neolithicum, maka penduduk asli tersebut terdesak ke daerah pedalaman. Orang-orang yang menjadi penduduk asli itu kemungkinan sisa-sisanya seperti KAREMA, sedangkan Lumimu'ut termasuk salah seorang dari rombongan orang-orang yang datang kemudian yaitu pada zaman Neolithicum tadi. Sebagaimana diuraikan sebelumnya, orang-orang yang datang pada zaman Neolithicum yaitu masa gelombang perpindahan pertamasebagian pergi ke Philipina, Taiwan, kepulauan Paskah, Andaman, Nikobar, Sailan sampai ke Madagaskar. Tentu saja perpindahan itu tidak terjadi sekaligus tetapi berlangsung berabad-abad lamanya.

Bangsa yang datang ke Philipina kemudian menyebar lagike daerah-daerah disekitarnya, antara lain ke Minahasa. Mereka yang ke Minahasa sebagian melebur dengan penduduk asli, tetapi sebagian lagi meninggalkan Minahasa lalu mengadakan penyebaran ke pulau-pulau disekitar Minahasa dan pulau-pulau lainnya di Indonesia. Oleh karena bangsa pendatang baru tadi membawa budayanya pula, maka dengan percampuran dengan penduduk asli, lalu melahirkan pula budaya baru. Kebudayaan baru ini antara lain dalam bahasa sebagai salah satu unsurnya, bahkan termasuk unsur-unsur teknolgi atau kebudayaan phisik, seperti pembuatan bentuk-bentuk rumah atau tempat tinggal. Oleh karena itu beberapa sarjana bahasa mengatakan bahwa bahasa-bahasa di Minahasa pada umumnya merupakan rumpun bahasa Philipina. Demikian pula cerita tua turun-temurun didaerah Toundanouw (Tonsawang) menyatakan  bahwa sebagian orang-orang yang berdiam didaerahnya berasal dari Mindanow (Philipina). Sampai sekarang masih dapat diungkapkan suatu nyanyian yang menuturkan tentang adanya orang-orang Mindanow yang disebut oleh mereka "Mangindanow".

Dari perkawinan dengan penduduk asli dan pendatang baru tersebut melahirkan keturunan-keturunan yang berdiam dibukit-bukit disekitar danau Toundanouw. Keturunan mereka makin bertambah banyak dengan masuknya pula bangsa-bangsa baru yang datang pada kira-kira 500-200 SM, yang merupakan perpindahan bangsa-bangsa pada gelombang kedua. Bangsa-bangsa ini juga dikatakan dari Philipina dan Sangir dan karena terdapat banyak persamaan bahasa maupun Budaya sehingga mereka melebur dengan penduduk terdahulu. Bangsa-bangsa ini termasuk Malayu Muda yang menyebar ke Nusantara, yang juga datang dari Yunan lalu ke Philipina dan menyebar ke Nusantara. Mereka telah mengenal budaya yang lebih maju seperti tembikar ataupun perunggu. Walaupun demikian budaya perunggu masih sulit dibuktikan di Minahasa karena belum ada bekas-bekas yang dapat menunjukkan bahwa orang-orang tua masa lampau telah mengenal pembuatan barang termaksud. Hal inilah yang menyebabkan bangsa yang datang itu, lalu pergi lagi menyebar kepulau-pulau lainnya. Mungkin kepergian mereka disebabkan di Tanah Minahasa, mereka tidak menemukan sumber-sumber alam atau bahan-bahan mentah untuk pembuatan barang-barang tersebut sehingga mereka tidak dapat menegmbangkan budayanya. Walaupun demikian, tidak semua pendatang ini meninggalkan tanah minahasa, melainkan sebagian tetap melebur dengan penduduk sebelumnya, dan mereka itulah yang menjadi asalnya suku-suku di Minahasa, termasuk Suku Toundanouw (Tonsawang) kemudian.

Selasa, 23 Desember 2014

Galeri Foto ; Lesung Batu Perkebunan " Balao "

Banyak Peninggalan dari Leluhur yang ada di Tanah Minahasa Khususnya Suku Toundanouw/Tonsawang, dan salah satunya yaitu Lesung Batu yang berada di Perkebunan BALAO Kec. Touluaan Kabupaten Minahasa Tenggara.

Saat salah seorang pemerhati Budaya Toundanou/Tonsawang melakukan jalan-jalan mengunjungi Lokasi Situs Budaya ini, ditemukan sekitar Lesung Batu tidak terurus lagi (So nda ja sebersih akang), jangankan di Lesung Batu ini, Kebun Sawah tempat Lesung ini berdiri, terlihat sudah dibiarkan oleh pemiliknya. Seperti pada gambar di bawah ini;




Saat Pemerhati Budaya Toundanouw/Tonsawang berupaya meskipun hanya sekitar lesung yang dibersihkan, supaya kelihatan lebih baik.





Rabu, 26 November 2014

Sombayang / Doa Bapa Kami

Saat ini saya akan bagikan Doa Bapa Kami dari berbagai Versi :

 Versi Bahasa Tonsawang / Tombatu / Toundanouw ;

AMANG ANATATANG
AMANG AMBAOI KAHOLANOAN I SORGA
PEDAYORAYOWEN NGALAN NU
WOWALADAI KERAJAAN NU
MAMOALIMAI PATAARE NU AMBAOI TOBA KELEI A SORGA
POWALADANAI SIKOON ENDOINIA
APUNGAN PAHASA KASEAAN
OSA HAMI TAHULA MAPUNG KASEAAN I TOUWALINA
NAAM I WAYAI A LOLEPEI
SUMATA I REKANG AKATAPIAAN
KARNGAN SI HOU TUMAKA-TAKA
I KERAJAAN BO KUASA BO KONUNGAAN AHAD KAETOETO
ULIT.


Versi Katolik;
BAPA kami: yang ada di-surga :
dimuliakanlah nama-Mu ;
datanglah: kerajaan-Mu;
jadilah kehendak-Mu diatas bumi: seperti di dalam surga,
berilah kami rezeki pada hari ini.
dan Ampunilah kesalahan kami,
seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami ;
dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan,
tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.
Amin.

Versi Protestan ;
Bapa kami yang di sorga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu
di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan
kami, seperti kami juga mengampuni
orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke
dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada
yang jahat.
[Karena Engkaulah yang empunya
Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan
sampai selama-lamanya. Amin.]
Lukisan James Tissot: The Lord's Prayer ("Doa Bapa Kami") (1886-1896)

Versi Bahasa Latin ;
Pater noster, qui es in caelis:
sanctificetur Nomen Tuum;
adveniat Regnum Tuum;
fiat voluntas Tua,
sicut in caelo, et in terra.
Panem nostrum cotidianum da nobis hodie;
et dimitte nobis debita nostra,
sicut et nos dimittimus debitoribus nostris;
et ne nos inducas in tentationem;
sed libera nos a Malo.


Versi Bahasa Yunani ;

Πάτερ ἡμῶν ὁ ἐν τοῖς οὐρανοῖς· Pater hêmôn ho en toes ouranoes
ἁγιασθήτω τὸ ὄνομά σου· hagiasthêtô to onoma sou;
ἐλθέτω ἡ βασιλεία σου· elthetô hê basileia sou;
γενηθήτω τὸ θέλημά σου,· genêthêtô to thelêma sou,
ὡς ἐν οὐρανῷ καὶ ἐπὶ τῆς γῆς· hôs en ouranô, kae epi tês gês.
τὸν ἄρτον ἡμῶν τὸν ἐπιούσιον δὸς ἡμῖν σήμερον· ton arton hêmôn ton epiousion dos hêmin sêmeron;
καὶ ἄφες ἡμῖν τὰ ὀφειλήματα ἡμῶν, kae aphes hêmin ta opheilêmata hêmôn,
ὡς καὶ ἡμεῖς ἀφίεμεν τοῖς ὀφειλέταις ἡμῶν· hôs kae hêmeis aphiemen toes opheiletaes hêmôn;
καὶ μὴ εἰσενέγκῃς ἡμᾶς εἰς πειρασμόν, kae mê eisenenkês hêmas eis peirasmon,
ἀλλὰ ῥῦσαι ἡμᾶς ἀπὸ τοῦ πονηροῦ. alla rhysae hêmas apo tou ponerou.
[Ὅτι σοῦ ἐστιν ἡ βασιλεία καὶ ἡ δύναμις hoti sou estin hê basileia kae hê dynamis
καὶ ἡ δόξα εἰς τοὺς αἰῶνας. ἀμήν.] kae hê doxa eis tous aeônas. amên.


Versi Bahasa Aram;

Abwoon d'bwashmaya,
Nethqadash shmakh,
Teytey malkuthakh.
Nehwey tzevyanach aykanna d'bwashmaya aph b'arha.
Hawvlan lachma d'sunqanan yaomana.
Washboqlan khaubayn (wakhtahayn)
aykana daph khnan shbwoqan l'khayyabayn.
Wela tahlan l'nesyuna.
Ela patzan min bisha.
Metol dilakhie malkutha wahayla wateshbukhta l'ahlam almin.
Amen.




Minggu, 23 November 2014

SEJARAH TOUNDANOUW / TONSAWANG

SEJARAH TOUNDANOUW - TONSAWANG

Asal usul dan latar belakang munculnya beberapa julukan untuk orang Tonsawang (Toundanouw). Nama Toundanouw menjadi anak suku yang tinggal di sebelah selatan Gunung Soputan dan sekitar danau Bulilin. Toundanouw terambil dari dua kata yakni Tou yang artinya orang, dan Dano yang artinya Air. Dengan demikian Toundanouw artinya orang air. Diberi nama orang air karena anak suku ini tinggal di sekitar danau bulilin. Bagi orang Toundanouw sendiri lebih mengenal mereka sebagai Nanah i Toundanouw ( anak suku Toundanouw ).

Nama Tonsawang lebih dikenal sebagai gelar yang diberikan oleh orang-orang dari luar Toundanouw (Tonsawang). Pemberian gelar ini mempunyai latar belakang tersendiri. Setelah sekian lama kelompok dari Tumpaan yang datang dan menetap di sekitar Danau bulilin, suatu waktu datanglah dua kelompok rombongan dari sebelah utara. Dua kelompok itu kemudian diketahui sebagai kelompok yang berasal dari anak Suku Toulour. Kedua kelompok itu masing-masing berasal dari Wewelen dibawah pimpinan Tonaas Kaawoan sedangkan kelompok lainnya berasal dari Luaan dibawah pimpinan Tonaas Mamosey. Pertemuan ini sangat mengembirakan karena diantara mereka terdapat banyak kesamaan baik dalam segi bahasa,adat istiadat dan sebagainya,apa lagi mereka berasal dari tanah leluhur yang sama. Baik mereka yang lebih dahulu menetap disekitar danau bulilin maupun yang datang dari utara hidup rukun dan damai serta berkembang menjadi anak suku Toundanouw. Sampai saat ini dikenal anak suku Toundanouw ( Tonsawang ) terbagi atas dua sub anak suku yakni Tou Betelen yang mendiami bagian Timur dan Tou Luaan yang mendiami bagian Barat.

Seperti telah dikemukakan diatas bahwa disamping nama Toundanouw yang populer dikalangan anak suku Toundanouw sendiri,ternyata masih ada nama lain seperti TONSAWANG,TONSINGIN,dan MOISING. Ketiga nama ini merupakan julukan ( gelar ) yang diberikan oleh anak suku diluar Toundanouw kepada anak suku Toundanouw. Gelar atau julukan tersebut berkaitan dengan peristiwa kepahlawanan (Perang) yang terjadi di Minahasa Antara tahun 1644 -1683 sering timbul peperangan antara bolaang mongondow dan Mindanouw. Pada tahun 1644 Amurang diduduki tentara Spanyol dengan alasan ingin membangun persahabatan dengan penduduk pribumi. Ternyata pasukan Spanyol ingin menguasai perdagangan( Monopoli ) terutama terhadap komoditi beras sebagai hasil utama dari Kali Tombatu. Demikian pula dengan kejahatan lainnya seperti perkosaan terhadap wanita penduduk setempat. Kenyataan ini telah mengakibatkan meledaknya pemberontakan anak suku Toundanouw yang mengakibatkan tewasnya 40 tentara spanyol di Kali dan Batu. Dipihak tentara pribumi telah mengakibatkan gugurnya Panglima Monde bersama 9 orang tentaranya. Panglima Monde gugur dalam rangka membela, mempertahankan dan melindungi Ratu Oki dan wilayah kekuasaannya. Ratu Oki tidak lain adalah istri panglima monde yang telah gugur itu. Gugurnya panglima monde tidak membuat surut perlawanan tentara Toundanouw, Panglima monde digantikan oleh Panglima Lelengboto yang juga dikenal keberaniaannya. Dalam perlawanannya terhadap penjajah panglima lelengboto dibantu dengan beberapa pahlawan yang gagah berani seperti Gandey, Koba, Moharow, keberanian tentara pribumi telah mengakibatkan jatuhnya banyak korban dipihak Spanyol. Jenis senjata Meriam yang digunakan tentara spanyol tak mampu melumpuhkan lelengboto dan tentaranya. Dalam peperangan ini 40 orang tentara spanyol ( Tasikela ) menemui ajalnya. Sedangkan di Amurang tercatat 100 orang tertawan dan terbunuh. Tentara spanyol yang dikalahkan itu dibawah pimpinan Bartholomeo de Soisa.

Keberanian dan kemenangan pasukan Toundanouw inilah yang menyebabkan anak suku Tontemboan dan Pasan-Ponosakan menamakan anak suku Toundanouw sebagai TONSINGIN. Tonsingin artinya orang yang disegani. Sampai saat ini orang-orang tua Pasan-Ponosakan lebih mengenal masyarakat Tonsawang dengan Tonsingin. Selanjutnya orang bolaang mongondow menyebut anak suku Toundanouw sebagai MOISING. Moising artinya dihormati atau disegani, Sebelum bangsa asing menguasai dan menjajah bangsa Indonesia maka tidak ada nama lain dari anak suku yang mendiami sekitar Danau Bulilin selain Toundanouw. 

Sejak lama anak suku Toundanouw hidup sejahtera,aman dan tentram dibawa Pimpinan seorang Ratu yang bernama OKI. Atas kebijaksanaan dan kearifannya memimpin anak suku Toundanouw maka Oki disahkan sebagai Tonaas dan Balian. selama kepemimpinan Ratu Oki, Spanyol dan Belanda tidak pernah menguasai atau menjajah anak suku Toundanouw. Bangsa asing telah mencoba dengan jalan perang dan damai namun Ratu Oki tidak pernah berkompromi dengan bangsa asing. nanti sesudah Ratu OKI meninggal barulah anak suku Toundanouw dikuasai oleh bangsa asing. Salah satu tradisi yang sangat kuat dikalangan anak Suku Toundanouw adalah melakukan pekerjaan secara bersama sama. pekerjaan di sawah dan di ladang sehari harinya dikerjakan secara kelompok yang terdiri atas Pria dan Wanita. Kelompok ini biasanya bekerja disertai seruan seruan dengan nada memberi komando dan memerintah yang berisi ajakan-ajakan dan dorongan agar tetap giat bekerja. Ajakan dan dorongan itu sering terungkap dalam bentuk nyanyian. Kelompok pekerja ini disebut Maando atau yang dikenal dengan Mapalus. 

Tradisi yang kuat ingin membantu orang lain menarik perhatian Bangsa Belanda. Dalam bahasa Toundanouw bantu membantu disebut Sawang. Pada tahun 1661, 1709-1711 dan 1809-1811 terjadi perang Tondano. Demikian pula pada tahun 1756,terjadi sengketa antara Minahasa dan Bolaang Mongondow. Terhadap kedua peristiwa itu bangsa melihat bahwa anak suku Toundanouw secara sukarela membantu baik dalam hal tenaga maupun materi ( terutama beras ). Atas dasar itulah Bangsa Belanda memberi nama anak suku Toundanouw sebagai orang sawang atau Tonsawang. Gelar atau julukan Tonsawang secara resmi dipakai dalam aktivitas pemerintahan sejak tahun 1886 ketika pemerintah belanda melalui surat keputusannya menetapkan berdirinya Distrik Tonsawang. Walak Toundanouw kemudian menjadi Pakasaan Tonsawang. Jiwa dan semangat tolong menolong yang telah tertanam sejak lama ternyata bukan hanya dalam hal mengolah sawah dan ladang. Dalam perkembangan selanjutnya ternyata pekerjaan tolong menolong atau Maando ( Mapalus ) juga untuk membiayai perkawinan, membuat rumah, menyediakan perabot untuk rumah baru ( Marambak ). Tentu saja bangsa belanda telah mengamati dan menilai secara seksama untuk datang pada keputusan memberi gelar kepada anak suku Toundanouw sebagai Tonsawang.

Mengkalimatkan Angka 1-10

Cara pengkalimatan angka 1 s/d 10 di Suku Tonsawang / Toundanouw memiliki 2 versi dalam mengkalimatkan angka-angka tersebut. 

Contoh : 

  1. =Esa
  2. =Rua
  3. =Telu
  4. =Epat
  5. =Lima
  6. =Enem
  7. =Pitu
  8. =Walu
  9. =Siow
  10. =Sangawulu.



Contoh diatas merupakan pengkalimatan yang umumnya digunakan oleh anak suku Minaesa khususnya anak suku Tonsawang / Toundanouw, tetapi ada versi lain yang digunakan oleh Orang Tua jaman dahulu yang tidak diketahui oleh anak suku Tonsawang jaman sekarang yaitu :


  1. = Esa
  2. = Beluan
  3. = Tengku
  4. = Paat
  5. = Keliwan
  6. = Keenem
  7. = Kepitu
  8. = Walaan
  9. = Kentjem
  10. = Pluip

Sabtu, 15 November 2014

Lesung Nawo Datumbanua

Salah satu peninggalan leluhur yang berada di Suku Tonsawang yaitu Lesung Batu milik Nawo / Dotu Datumbanua yang terletak di Desa Tombatu Satu Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahasa Tenggara "Katuahan".

Lesung Nawo / Dotu Datumbanua

Nawo / Dotu Datumbanua yang beristrikan perempuan bernama Subanen dipercayai adalah sosok yang semasa hidupnya telah merancang pertanian yang berada di Tombatu / Betelen, dan dapat kita lihat  hingga kini bila mengunjungi Wanua Tombatu , dan konon cerita lesung ini sempat jatuh ke bawah bukit dan pada gambar tersebut diatas adalah tempat dimana lesung tersebut berada sekarang setelah diangkat dari bawah bukit dan hal ini dipercayai adalah awal mula keberadaan Suku Tonsawang mulai terangkat / dikenal oleh suku lain.

Nawo Datumbanua juga dipercaya adalah Dotu yang sering berkeliling keberbagai benua dan dari kunjungannya inilah sehingga mendapatkan inspirasi untuk merancang pertanian yang berada di Wanua Betelen / Tombatu.

Jumat, 14 November 2014

Sejarah Watu / Batu Pinabetengan & Watu Tumotowa

Alkisah keturunan Toar dan Lumimuut telah berkembang biak memenuhi wilayah pemukiman awal mereka,yakni Tu'ur in tana. sampai suatu masa datanglah musibah serta bencana alam beruntun yang menjadi peringatan bahwa mereka harus mengosongkan Tu'ur in Tana dan menemkan lahan penghidupan baru. Atas petunjuk burung manguni, mereka harus berjalan menentang jalannya mentari ke arah Timur, lalu berbelok ke Utara. Disekitar Sumeseput, disanalah kehidupan yg baru dari kaum keturunan Toar Lumimuut. Setelah melalui berbagai rintangan dan derita, tibalah mereka disebuah perbukitan yang dinamai Tonderukan yang dari sini terpampang pemandangan yang indah, luas dan sangat subur tepat sesuai petunjuk Manguni-Makasiouw, di salah satu sisi tegaklah Gunung Soputan ( semeseput ). Segera para kumeter, pemimpin mapalus membangun pemukiman di tempat yang dinamai Ranolesi ( Terletak di antara Tumaratas dan Tou're sekarang ). Sebelum para Walian menyiapkan upacara kurban syukur, mereka mencarikan tempat untuk mendirikan Tumotowa sesuai dengan kebiasaan ( Tumotowa berupa batu yang menjadi mezbah ritual sekaligus menandai berdirinya pemukiman suatu komunitas ).


Selanjutnya karena yang di jadikan Tumotowa kali ini adalah sebuah altar alamiah,berupa Batu besar yang memanjang dari Timur ke Barat,dan saat di jumpai di atasnya bertengger Burung Manguni sementara lainnya disekitar itu di tunggui ular hitam,maka kaum yg besar ini segera dinyatakan sebagai Watu Tumotowa Wangko ( mezbah Agung ). Dengan di pimpin Tonaas Walian Wangko ( Pada masa tertentu terdapat Pemimpin Pemerintahan yang sekaligus pemangku adat kepercayaan ). Merekapun melangsungkan upacara dengan kurban bakaran sangat banyak berupa sejumlah hewan hutan hasil buruan para Waraney. Di situlah dicetuskan "Nuwu i Tu'a" ( Amanat dari yang di tuakan ) atau yg kemudian lebih dikenal sebagai Amanat Watu Pinawetengan : Bahwa tanah ini adalah milik kita bersama, sesuai petunjuk sang manguni bagi bagikanlah tanah ini, rambahilah tapal-tapal baru lahan penghidupan, wahai pekerja! kuasai dan pertahankanlah wilayah, wahai satria! Agar keturunan kita dapat hidup dan memberikan kehidupan! Akad se tu'us tumou o tumou tou.
Batu / Watu Pinabetengan

Mezbah utama ini kemudian disebut "Watu Pinawetengan" sebab dibatu inilah dirundingkan dan diamanatkan pembagian wilayah pemukiman kaum keturunan Toar Lumimuut. Seterusnya Watu Pinawetengan menjadi tempat pertemuan para pemimpin anak-anak suku bangsa Minahasa setiap kali menghadapi persoalan besar dan membutuhkan pengukuhan kembali janji setia Maesaan ( persatuan ). Namun kemudian, seiring tahun berganti tahun, abad berganti abad, Watu Pinawetengan sempat hilang ditelan bumi. Meski dipermukaan area tersebut para pemimpin adat dan generasi ke generasi selalu datang melangsungkan upacara. Pengalian atas batu tersebut baru dilakukan pd tahun 1888, sesuai hasil analisis J.A.T. Schwarz dan J.G.F. Riedel ( Masing-masing adalah putera dari Pdt. J.G. Schwarz dan Pdt. J.F. Riedel-dua misionaris yg berperan penting menginjili Minahasa ). Berdasarkan petunjuk sejumlah tuturan dan sastra lisan yg diwarisi oleh orang-orang tua. Bila kita menghayati nilai dan semangat Maesaan yang tetap dan semakin dibutuhkan di zaman modern ini. Salah satu amanat yang pernah dicetuskan para leluhur di watu pinawetengan, yakni Nuwu I Ngeluan: Bila kita bertumpuk,menyebarlah. Bila kita tersebar,tetap satulah kita dan selalu kembalilah membangun daerah kita tercinta Minahasa raya.
Watu Tumotowa didirikan oleh setiap komunitas orang minahasa dimanapun mereka mulai membuka pemukiman. Itu menjadi mezbah umat untuk memohon restu bermukim, semoga tanah dan air diberi berlimpah untuk sumber kehidupan. Dan untuk seterusnya digunakan sebagai tempat sekaum untuk berkomunikasi dengan Empung Wailan Wangko 'Tuhan Yang Maha Esa'. 

Watu Tumotowa dari anak suku Tontemboan dan sebagian Toulour "Towa: memanggil, memohon hadirat Tuhan". Anak suku Tonsea : Watu Tumou. Orang Toudano : Panimbe, Tombulu : Watu Pahlalesan. Setiap hendak membuka pemukiman baru, para leluhur Minahasa melepaskan seekor ayam jantan ditempat yang telah dipilih. Dimana ayam itu pertama kali mengais / mencakar tanah, disitulah batu Altar didirikan. Dan rumah-rumah penduduk pun mulai didirikan disekitar area yang menjadi tempat suci tersebut. Di kakas, di permukaan batu yang merupakan titik awal pembangunan negeri itu tergurat bekas cakaran ayam (Kina'kas ni ko'ko'-dan menjadi asal mula nama negeri itu: Ka'kas). di Tompaso Baru, sebuah batu tumotowa terpahat ditebing batu, dan ini dipercaya oleh kalangan tertentu sebagai pemukiman mula dari keturunan Toar Lumimuut sebelum mereka pindah kekawasan Tonderukan dan sekitarnya. 

Keistimewaan dari watu tumotowa di tompaso ini ialah, pertama : bahwa ia merupakan salah satu dari mezbah yang paling awal didirikan orang minahasa sebelum mereka memenuhi seluruh penjuru jazirah utara sulawesi dan mendirikan Watu Tumotowa di masing-masing tempatnya sampai menjadi banyak. Kedua : Watu yang sekarang terletak di tengah arena pacuan kuda ini dipercaya sebagai tempat upacara yang serangkaian dengan upacara besar di Watu Pinawetengan. 

Jika diatas, di watu pinawetengan dipimpin Muntu-untu, pemimpin tertinggi yang kemudian menjadi Opo, Maka yang dibawah di watu tumotowa dipimpin oleh bawahan Muntu-Untu yakni Miyoh-Iyoh. Opo Mioyoh adalah Opo Bumi yang bersemayam didalam tanah. Istri Mioyoh adalah Tende Wene, Dewi Padi (wene:padi). Upacara upacara yang dilakukan di Watu Tumotowa maupun di Watu Pinawetengan memang senantiasa dikaitkan dengan permohonan untuk kesuburan dan keberhasilan panen.

Minggu, 19 Oktober 2014

DEWA & DEWI KELENTENG Part 4

DEWATA PENGUASA LANGIT

Para dewata ini mempunyai kekuasaan di seluruh alam, dan dipuncaki oleh Yu Huang Da Di sebagai dewata tertinggi yang melaksanakan pemerintahan alam semesta dan dibantu oleh para dewata lain seperti Dewa Halilintar, Dewa Bintang, dan lain-lain. Tugas mereka adalah mengatur semua yang ada dikawasan langit seperti peredaran bintang, keamanan khayangan, hembusan angin dan berkelebatnya kilat dan lain-lain gejala alam.

1.YU HUANG DA DI
Yu Huang Da Di (Giok Hong Tay Tee-Hokkian), biasanya disebut sebagai Tian Gong Zu (Thian Kong Co-Hokkian), kadang-kadang disebut sebagai Yu Huang Shang Di (Giok Hong Siang Te-Hokkian) yang secara harafiah berarti "Kaisar Pualam", sebab Pualam atau Kumala (Yu-Mandarin, Giok-Hokkian) merupakan lambang kesucian. Beliau dianggap sebagai pelaksana tertinggi pemerintahan alam semesta, bertahta di khayangan.

Pada jaman dahulu hanya kaisar saja yang boleh melakukan upacara sembahyang kepada-Nya, menteri atau rakyat biasa tidak diijinkan. Pada masa Zheng Cheng Gong, di Taiwan pernah melakukan sembahyang kepada Yu Huang untuk mewakili kaisar dinasti Ming. Tiongkok pada masa itu sudah dikuasai oleh bangsa Manzhu, dinasti Ming sudah runtuh. Tapi di Taiwan, Zheng Cheng Gong masih tetap berkuasa dan menjalankan pemerintahan sebagai menteri kerajaan Ming, karena Kaisar Ming sudah tiada maka untuk bersembahyang kepada Tian dia merasa perlu mewakili. Barulah sesudah keturunan Zheng Cheng Gong menyerah kepada pemerintah dinasti Qing (Manzhu), upacara ini dihentikan. Setelah itulah meskipun tidak diperkenankan melakukan upacara sembahyang kepada Tian, rakyat kebanyakan melakukan sembahyang dirumah masing-masing dihadapan pedupaan pemujaan, untuk bersujud kepada Tian dan berdoa memohon keselamatan.

Pada masa pertengahan dinasti Qing, karena kerajaan sibuk memulihkan keamanan diberbagai propinsi di Tiongkok, maka pemujaan resmi tidak dilakukan lagi. Rakyat lalu melakukan pemujaan di kelenteng dimana Zheng Cheng Gong melakukan upacara tersebut, dan secara resmi ditempatkan altar untuk Tian dikelenteng tersebut, yang lazimnya disebut Tian Gong Miao.

Bersamaan waktunya juga didirikan kelenteng Yu Huang Gong, digunung Jian San, dan pada tahun Jia Qing ke-5 ditambah sebuah area Yu Huang Shang Di. JAdi sekarang di Taiwan terdapat dua buah kelenteng untuk memuja Yu Huang Da Di. Pengunjung kedua kelenteng ini sangat banyak, terutama pada tanggal 9 bulan 1 Imlik, yang dianggap hari ulang Tahun Yu Huang Da Di, kecuali itu perkumpulan-perkumpulan swasta yang memuja Yu Huang pun mulai banyak diantaranya yang terkenal adalah perkumpulan Jing Xian Tang yang didirikan pada tahun Xian Feng yang ke-8.

Pemujaan terhadap Tian ini merupakan perwujudan pandangan orang Tionghoa tradisional tentang bersatu padunya langit (Tuhan) dan manusia, sebab itu di ruang belakang kelenteng ada papan bertuliskan "Tian Di Yi Li" (yang berarti langit/Tuhan dan bumi punya tata krama yang sama). Kesemua ini punya makna mendidik masyarakat untuk memberkahi siapa saja yang berbuat baik dan akan menghukum yang berbuat jahat.

Asal usul pemujaan Yu Huang yang kemudian banyak memperoleh gelar kehormatan, kira-kira sebagai berikut : Kaisar Zhen-zong dari dinasti Song (A.D 1005) terpaksa harus menanda tangani kapitulasi damai dengan orang Tungus (Ji-tan). Karena hal yang memalukan ini kerajaan mengalami krisis kepercayaan dari rakyat, sehingga dukungan dari massa dikhawatirkan merosot. Untuk menenangkan rakyatnya sang kaisar berlaku seakan-akan ia bisa melakukan komunikasi langsung dengan dewata dilangit. Pada suatu hari, pada bulan yang kesepuluh tahun 1012, dikumpulkannya semua menterinya dan beliau lalu bersabda "Di dalam mimpiku, seorang Dewa telah datang kepadaku dengan membawa sepucuk surat dari Yu Huang Da Di dan mengatakan bahwa leluhurku akan datang sendiri dan dipertemukan dengan aku".

Sungguh ajaib apa yang dikatakannya menjadi nyata, Song Tai-zu (Pendiri dinasti Song) tiba-tiba menampakkan diri di depannya Baginda Kaisar Song Zhen-song sangat heran sekali. Sejak saat itulah lalu diadakan sembahyangan pemujaan terhadap Yu Huang Shang Di, disamping catatan sejarah ini masih ada sebuah legenda yang menjelaskan asal-usul Yu Huang.

Dikisahkan pada sebuah negeri yang bernama Guan Yan Miao Luo Guo, Raja Jing De dan permaisurinya Bao Yue sedang bersusah hati. Sudah bertahun-tahun mereka mendambakan putra, tapi tak kunjung tiba juga. Sudah berpuluh-puluh orang pendeta  Taoist didatangkan untuk memimpin upacara sembahyang kepada Penguasa Alam, supaya permohonannya terkabul, tapi hasilnya nihil. Pada suatu malam sang permasuri bermimpi, dilihatnya Lao Jun sedang menunggang seekor naga sambil menggendong seorang anak laki-laki. Dewa itu terbang kearahnya, segera permaisuri memohon agar anak laki-laki itu diberikan kepadanya sebagai penerus tahta kerajaan, "Aku tidak berkeberatan" kata Lao Jun ini terimalah, sang permaisuri segera berlutut menghaturkan terima kasih. Ketika sadar dari mimpinya dia mendapati dirinya berbadan dua. Pada akhir tahun seorang pangeran telah lahir, sejak usia masih muda sekali sang pangeran sudah menunjukkan suatu pribadi yang welas asih terhadap sesamanya yang sedang dirundung malang, terutama terhadap orang miskin. Setelah ayahanda meninggal, beliau lalu naik tahta, tapi hanya beberapa hari saja dia memerintah, beliau melepaskan kekuasaannya dan mengangkat seorang perdana menteri sebagai pengganti, lalu pergi bertapa di pegunungan Pu Ming dipropinsi Shanxi dan di pegunungan Xiu Yan dipropinsi Yunan. Setelah memperoleh kesempurnaan, hari-hari dilewatinya dengan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Pada saat menjalankan tugas kebajikan inilah beliau wafat. Kaisar Cheng Zong dan Hui Zong dari dinasti Song menganugrahi beliau dengan bermacam-macam titel antara lain YU Huang Da Di, yang tetap dipakai orang-orang sampai sekarang.

Kaum Buddist dan Taoist masing-masing mengaku bahwa Yu Huang adalah Tuhan mereka. Kaum Buddist menganggapnya sebagai Indra, dalam hal ini bisa dianggap Yu Huang adalah Dewasa Buddist yang dimasukkan dalam khasanah Dewa-dewa Taoist.

Yu Huang sering kali dianggap sebagai lambang akan kepercayaan alam semesta. Jing De, ayahnya adalah matahari dan sang permaisuri Bao Yue ibunya adalah lambang rembulan. Perkawinan mereka adalah melambangkan lahirnya kekuatan yang menyelimuti alam dengan kehidupan penuh kesuburan dan bunga-bunga.


2. DEWI PENGUASA LANGIT BARAT DAN TIMUR 
    (XI WANG MU DAN DONGWANG GONG)

Xi Wang Mu, yang secara umum dipanggil Wang Mu Niang Niang (Ong Bo Nio Nio-Hokkian), sering juga disebut sebagai Yao Chi Jin Mu. Ada anggapan yang menyatakan ia adalah permaisuri Yu Huang Da Di. Xi Wang Mu diciptakan dari intisari yang paling murni dari hawa langit bagian barat dan lahir ditempat yang disebut "Yi-Chuan", dengan nama keluarga Hou. Nama kecilnya adalah Hui alias Wan-Jin, ia adalah penguasa langit bagian barat, ia bersama Dong Wang Gong yang diciptakan dari intisari hawa langit bagian timur (Penguasa Langit bagian Timur), merupakan lambang Yin dan Yang atau negatif dan positif, kedua unsur ini bekerja sama menciptakan langit dan bumi beserta mahluk dialam semesta. Jadi kedua unsur inilah yang menjadi asas yang paling hakiki dari kehidupan, dan merupakan nafas dari segala mahluk hidup.

Xi Wang Mu bertempat tinggal digunung Gun Lun Shan, gunung suci bagi kaum Taoisme, sama halnya dengan gunung Semeru bagi umat Buddha yang berselimutkan salju, Pegunungan Gun Lun mempunyai keliling 1000 li atau 333 mil. Istananya dikelilingi oleh benteng dari emas dan batu mulia, sedangkan pavilium disebelah kanannya merupakan tempat bermukim para dewa, yang terbagi menjadi beberapa golongan menurut warna pakaian yang dikenakannya yaitu merah, biru, hitam, ungu, kuning dan warna alam. Disini terdapat sebuah air mancur besar yang dibangun dari bermacam-macam batu mulia dan disebut yao-chi atau Telaga Zamrud. Pesta buah tao atau persik (Tho-Hokkian) atau Pan Tao Hui diselenggarakan disini dengan dihadiri oleh kalangan dewa-dewa. Pesta ini diadakan untuk menikmati buah Tao, yang konon hanya berbuah 3.000 tahun sekali, dan siapa saja yang menyantapnya akan memperoleh umur panjang, hari inilah yang ditetapkan sebagai hari lahir Xi Wang Mu, disaat para dewa berkumpul untuk memberi selamat kepadanya.

Tentang Pan Tao Hui ini sedikit diceritakan dalam cerita klasik terkenal Xi You Ji (See Yu Ki-Hokkian) si Raja Kera yang sakti, telah mendapat gelar Oi Tian Da Sheng (Ce Thian Tay Seng-Hokkian), melahap habis semua buah tao yang akan dihidangkan buat Pan Tao Hui tersebut. Ia masih kurang puas, sehingga semua makanan yang disediakan untuk menjamu para dewa yang hadir pun tidak luput dari incarannya. Pesta itupun batal, sehingga Wang Mu Niang Niang marah besar, ia segera melaporkan kejadian itu pada Yu Huang Da Di, para malaikat dan bala tentara kahyangan yang diperintahkan menangkap Sun Wu Kong, tidak berhasil, tetapi akhirnya dengan bantuan Ru Lai Fo (Djie Lay Hud), Sun Wu Kong dapat ditaklukan dan dihukum dengan ditindih gunung Wu Xing Shan selama 500 tahun.

Dong wang Gong disebut juga Dong Hua Di Jun (Teng Hoa Te Kun-Hokkian) adalah penguasa langit Timur, dewata ini diciptakan dari intisari uap air dilangit timur dan merupakan penguasa unsur jantan "Yang" dan semua negeri sebelah timur. Istananya dilangit yang terselubung halimun berkubah awan ungu dan bertembok awan jingga, dia mempunyai pelayan Xian Tong (Jejaka Dewa) dan Yu Nu (Gadis Kumala). Mula-mula dewata ini disebut Mu Gong, tapi karena kekuasaannya dilangit timur ia disebut Dong Wang Gong (Paduka Raja dari Timur). Dia menguasai daftar semua dewa pria dan wanita, hari lahir Dong Wang diperingati pada tanggal 1 bulan 10 Imlik, dan Xi Wang Mu pada tanggal 18 bulan 7 Imlik.

Sebelum tahun 1950 pemujaan Dewata ini jarang terdapat di Taiwan, barulah dengan berdirinya aliran Zi Hui Tang di Taiwan, pemujaan mulai meluas di Indonesia masih jarang, tapi kabarnya di Surabaya ada kelenteng yang memuja Xi Wang Mu.

3.  PANGERAN KE-EMPAT (YU HUANG TAI-ZI)

Yu Huang Tai Zi (Giok Hong Thay-cu_Hokkian) adalah putra keempat Yu Huang Da Di, hari ulang tahunnya adalah tanggal 2 bulan 5 Imlik. Dulu karena rakyat umum tidak diperkenankan bersembahyang kepada Yu Huang, mereka membuat patung pangeran ke IV ini untuk disembah, dengan harapan agar doa mereka dapat didengar oleh sang Pangeran, dan kemudian disampaikan kepada Ayahnya.

Di Taiwan pada jaman kekuasaan Zheng Cheng Gong, didirikan kelenteng Yu Huang Tai-zi Gong dipuncak gunung Jian Shan, untuk meyembahnya. Kelenteng tersebut kemudian berubah nama menjadi Tian Gong Miao, karena digunakan untuk memuja Yu Huang Da Di, didalam Yu Huang Gong di tempat lain, ada juga pemujaan terhadap putri Yu Huang yang ke empat.
Tujuan pemujaan kira-kira sama dengan pemujaan terhadap Yu Huang Tai-Zi, hari lahirnya pada tanggal 6 bulan 9 Imlek.

4. DEWA LANGIT UTARA (XUAN TIAN SHANG DI)

Xuan Tian Shang Di (Hian Thian Siang Te-Hokkian) adalah salah satu dewa yang paling populer, wilayah pemujaannya sangat luas, dari Tiongkok Utara sampai Selatan, Taiwan, Malaysia dan Indonesia. Orang biasanya menyebutnya sebagai Shang Di Gong (Siang Te Kong-Hokkian), kedudukannya dalam kalangan malaikat tinggi sekali, setingkat di bawah Yu Huang Da Di, dan merupakan salah satu dari Si Tian Shang Di atau empat Maha Raja Langit. Si Tian Shang Di terdiri dari Qing Tian Shang Di di Timur, Yan Tian Shang Di di selatan, Bai Tian Shang Di di Barat dan Xuan Tian Shang Di di Utara. Beliau mempunyai wewenang di langit bagian utara dan menjadi pemimpin tertinggi para malaikat dikawasan itu, sebab itu patungnya selalu dilukiskan dengan menginjak kura-kura dan ular. Xuan Wu adalah dewa yang berkedudukan diwilayah utara dan dilambangkan sebagai ular dan kura-kura. Xuan Tian Shang Di yang disebut juga Zhen Wu Da Di (Cin Bti Tay Tee-Hokkian) adalah Xuan Wu. Lalu pada jaman dinasti Song secara resmi huruf Xuan diganti Zhen, dan sebutan Xuan Wu diganti Zhen Wu Da Di sebelah kanan dan kiri Xuan Tian biasanya terdapat dua orang pengawal yaitu jendral Kang dan jendral Zhao.

Pemujaan terhadap Xuan Tian Shang Di mulai berkembang pada masa dinasti Ming, dikisahkan pada masa permulaan pergerakannya Zhu Yuan Zhang (Pendiri dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di pegunungan Wu Dang Shan (Bu Tong San-Hokkian), dipropinsi Hu Bei, dalam sebuah kelenteng Shang Di Miao. Berkat perlindungan Shang Di Gong (sebutan populer Xuan Tian Shang Di), Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol, yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya. Kemudian berkat batuan Xuan Tian Shang Di, maka Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongol dan menumbangkan dinasti Yuan. Ia mendirikan dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok. Untuk mengenang jasa-jasa Xua Tian Shang Di dan berterima kasih atas perlindungannya, ia lalu mendirikan kelenteng pemujaan di ibu kota Nanjing (Nanking) dan digunung Wu Dang Shan. Sejak itu Wu Dang Shan menjadi tempat suci bagi penganut Taoisme. Kelentengnya, dengan patung Xuan Tian dari tembaga, bisa dilihat sampai sekarang, disamping itu Shang Di Gong juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara. Tiap tahun tanggal 3 bulan 3 Imlik ditetapkan sebagai hari She-jietnya dan tanggal 9 bulan 9 Imlik adalah hari beliau mencapai kesempurnaan dan diadakan upacara sembahyang besar-besaran pada hari-hari itu. Sejak itulah pemujaan Shang Di Gong meluas keseluruh negeri, dan hampir disetiap kota besar ada kelenteng yang memujanya.

Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong didirikan, tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah dan menjadi pusat pemujaa bersama rakyat dan tentara, oleh sebab itu maka kelenteng Shang Di Miao tersebar diberbagai tempat diantaranya yang terbesar adalah di Tainan yang dibangun pada waktu Belanda berkuasa di Taiwan.

Setelah jatuhnya Zheng Cheng Gong, dinasti Qing dari Manzhu yang berkuasa, mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliu sebetulnya adalah seorang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan dan mengkikis habis  sisa-sisa pengikut dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng aliran buddha tentang seorang jagal yang telah bertobat lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya dan menjadi pengikut Buddha. Kura-kura dan ular yang diinjak itu dikatakan sebagai usus dan jerohan si jagal, oleh sebab itu maka tingkatannya diturunkan menjadi malaikat pelindung Penjagalan. Pembangunan kelenteng-kelenteng Shang Di Miao, sejak itu sangat berkurang. Pada masa dinasti Qing ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu yaitu Lao Gu She Miao di Tainan, tapi sebetulnya kaisar-kaisar Manzhu sangat menghormati Xuan Tian Shang Di ini, terbukti dengan dibangunnya kelenteng pemujaan khusus untuk Shang Di Gong dikomplek kota terlarang, yaitu Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian dan satu lagi di istana Persingahan di Chengde.

Mengenai riwayat Xuan Tian Shang Di ini, seorang pengarang yang hidup pada akhir dinasti Ming, Yu Xiang Tou telah menulis sebuah novel yang bersifat dongeng yang berjudul "Bei You Ji" atau "Catatan Perjalanan ke Utara". Novel ini sekarang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul dalam lafal Hokkian Pak Yu Ki, dalam bentuk cerita bergambar oleh penerbit Zambhala dari yayasan tridarma Jakarta.

Adapun ringkasan riwayat Zhen Wu atau Xuan Tian Shang Di seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut adalah sebagai berikut :
Dikisahkan Yu Huang Da Di (Giok Hong Tay Tee-Hokkian) telah menyatakan keinginannya untuk turun ke dunia, maka satu diantara ketiga rohnya lalu lahir sebagai manusia pada keluarga Liu (Bandingkan dengan kepercayaan Kristen tentang Trinitas). Ayahnya Liu Tian Jun, kemudian memberi nama Zhang Sheng yang berarti "Tumbuh Subur". Liu Zhang Sheng tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas, pada usia tiga tahun ia sudah dapat membawakan sanjak dan memuat syair.

Ditaman keluarga Liu (law-Hokkian) itu terdapat pohon yang besar dan tinggi serta memancarkan cahaya yang berkilauan, ternyata disitu bersemayam Duo Bao Fo (To Po Hud-Hokkian) atau Buddha Prabutaratna Tathagata. Sang Buddha melihat Liu Zhang Sheng begitu tekun bersembahyang dibawah pohon itu, begitu tulus memujanya sehingga ia merasa kasihan dan meninggalkan pohon itu. Sepeninggal Duo Bao Fo maka pohon itu menjadi kering dan cahayanya lenyap. Liu Zhang Sheng sangat masygul melihat pohon kesayangannya layu, Duo Bao Fo lalu muncul dihadapannya dan menjelaskan mengapa pohon itu bersinar berkilau-kilauan tapi sekarang layu, Zhang Sheng menyatakan ingin ikut sang Buddha pergi ke istana langit, shang Buddha menyanggupi tapi orang tuanya tidak mengijinkan, Liu Zhang Sheng memaksa dengan diantar ratap tagis orang tuanya dia ikut Duo Bao Fo terbang ke langit, oleh sang Buddha dia diantar ke San Qing Tian (Sam Tjeng Tian-Hokkian yang berarti Istana Tiga Kesucian) tempat kediaman miao Le Tian-zun seorang tokoh agama Dao (Tao). Setelah mengetahui keinginan Liu Zhang Sheng yaitu ingin menjadi Dewa, Miao Le mengatakan bahwa untuk menjadi dewa ia harus lahir didunia kembali untuk bertapa dan mengalami berbagai kesukaran dan cobaan, serta tahan menderita. Lalu Miao Le menambahkan "sebagai manusia kau harus menghilangkan pikiran yang bukan-bukan, kalu ingin berhasil, sekali berbuat kesalahan kau akan gagal".

Kembali Liu Zhang Sheng menitis kedunia, kali ini menjadi seorang putra raja yang bernama Xuan Ming, karena kegagahannya Xuan Ming akhirnya diangkat mengantikan ayahnya yang wafat dan menjadi raja dinegeri itu. Pada suatu hari Miao Le Tian Zun datang dan mendidiknya memahami masalah kedewaan, dibawah asuhan Miao Le ia lalu meninggalkan segala kemewahan dunia sebagai raja dan mengikuti Miao Le pergi ke gunung untuk bertapa digunung Feng Lai Shan (Hong Lay San-Hokkian) mereka mendirikan gubuk dan tinggal disana sambil mempelajari kitab-kitab suci dan ajaran-ajaran Dao.

Sudah bertahun-tahun Xuan Ming bertapa, maka suatu hari Miao Le Tian Zun (Biauw Lok Thian Cun-Hokkian) berniat mengujinya, disuruhnya Xuan Ming turun gunung untuk membeli buah Tao, Miao Le menyamar menjadi seorang wanita desa yang cantik dan mencegatnya sambil menawarkan buah persik dengan harga luar biasa mahal yaitu 1.000 tael massebuah, tapi bila Xuan Ming mau memperistrikannya maka buah persik tersebut diberikannya dengan gratis. Xuan Ming terpaksa mengabulkan permintaannya dengan syarat "Aku adalah seorang pertapa, dalam hidup ini memperistrimu adalah tidak mungkin, hanya pada penitisan yang akan datang aku bersedia mengawinimu" Si wanita dengan tersenyum menjawab, "Dalam penitisan yang akan datang tidaklah menjadi soal, yang penting adalah kesanggupanmu. Sekarang terimalah buah ini", tiba-tiba wanita itu lenyap dan Miao Le Tian Zun berdiri dihadapannya dengan wajah gusar "Engkau menginginkan seorang wanita berarti kau masih terikat pada keduniawian, karena itu untuk mencapai kedewaan pada saat ini adalah mustahil, kau harus menitis kembali kedunia". Xuan Ming menangis menyesali perbuatan dan kecerobohannya.

Akhirnya dengan diantar oleh Miao Le, Xuan Ming menitis kembali lagi kedunia negeri Jing Luo Guo (Ceng Lok Kok-Hokkian) sebagai putera raja yang bernama Xuan Yuan Tai Zi. Ketika berusia 15 tahun, dalam suatu keramaian pada perayaan Yuan Xiao (Goan Siauw- Hokkian, Capgome), Xuan Yuan menjadi dingin hatinya melihat banyaknya kesengsaraan dan kekerasan dimasyarakat, dilihatnya orang berhantam karena berebut wanita, seorang penjambret dihajar oleh massa sampai babak belur, orang kaya dengan segala kemewahannya berpesta pora, sedang dijalan-jalan orang miskin mati kelaparan. Ini semua menggugah keinginannya untuk menjadi dewa dengan meninggalkan keduniawian, seperti pada penitisan yang lalu. mendengar keinginannya ini raja sangat marah, Xuan Yuan dijebloskan dalam penjara, pada saat ia dalam penjara itulah Miao Le Tian Zun datang menolongnya dan membawanya kegunung Wu Dang Shan (Bu Tong San-Hokkian), disana ia melanjutkan tapanya untuk menjadi dewa. Berkali-kali ayahnya menyuruh orang meminta dia pulang, tapi tekadnya tetap teguh, ayahnya tidak dapat berbuat apa-apa, setelah 20 tahun bertapa Miao Le diam-diam menyuruh malaikat penguasa gunung Wu Dang untuk mengujinya, sang malaikat menyamar sebagi seorang wanita cantik yang mencoba dengan berbagai cara untuk merayu Xuan Yuan, Xuan Yuan kehabisan akal untuk menolaknya, ia lalu bangkit dari meditasinya dan meninggalkan tempat itu, dikaki gunung ia melihat seorang wanita tua mengasah sebatang besi diatas batu, ketika Xuan Yuan bertanya apa maksudnya mengasah besi, nenek itu menjawab dia sedang membuat jarum untuk cucunya. Xuan Yuan termenung mendengar ucapan nenek, ia sadar akan makna yang terkandung dalamnya, dengan teguhnya hati besi batangan pun dapat digosok menjadi jarum. Xuan Yuan lalu kembali menjalankan tapanya dengan tekun setelah berhasil mengatasi berbagai macam godaan, 20 tahun kemudian Miao Le menjemputnya dan naik ke langit untuk bertemu dengan Yu Huang Shang Di (Giok Hong Siang Tee-Hokkian). Yu Huang lalu berfirman dan mengangkat Xuan Yuan menjadi dewa dengan gelar Xuan Tian Shang Di dan berkuasa disebelah utara dan bertugas memerangi kejahatan serta menangkap siluman dan iblis yang mengacau dunia.
Selanjutnya dikisahkan Xuan Tian Shang Di turun kebumi menaklukkan berbagai siluman, antara lain Siluman Ular dan siluman kura-kura, yang kemudian menjadi pengikutnya, disamping itu seorang tokoh dunia gelap Zhao Gong Ming (Tio Kong Bing-Hokkian) juga ditaklukkan dan menjadi pengawalnya sebagai pembawa bendera berwarna hitam.

Dalam kisah ini oleh pengarang kura-kura dan ular yang merupakan lambang Dewa Utara (Xuan Wu) sengaja dipersonifikasikan sebagai manusia untuk lebih menonjolkan Zhen Wu. Akhirnya kisah ini dihubungkan dengan sejarah dinasti Ming dimana diceritakan bagaimana Zhen Wu atau Xuan Tiang Shang Di membantu Zhu Yuang Zhang mengalahkan Kerajaan Yuan (Mongol).

Sehubungan dengan kura-kura dan ular ini, para pengusaha rakit bambu di Taiwan dan Hongkong memuja Xuan Tian Shang Di, agar kura-kura dan ular disungai-sungai tidak berani menimbulkan ombak dan gelombang yang mengancam usaha mereka, kecuali di Taiwan dan Hongkong pemujaan terhadap Xuan Tian ini juga menyebar di Asia Tenggara terutama di Malysia, Singapura dan Indonesia. Disingapura kelenteng yang terkenal memuja Xuan Tian adalah Wak Hai Cheng Bio di Philip Street, di Indonesia hampir setiap kelenteng menyediakan altar untuknya.

Menurut cerita, Kelenteng Xuan Tian Shang Di yang pertama di Indonesia adalah Kelenteng Welahan, jawa tengah. Disemarang sebagian besar kelenteng ada tempat pemujaan untuknya, sedangkan yang khusus memuja Xuan Tiang Shang Di sebagai tuan rumah adalah kelenteng Gerajen dan Bugangan.

Disisni dapat dilihat bahwa Xuan Tian Shang Di adalah dewa Taoisme yang kepopulerannya sejajar dengan Guan Yin dan Guan Di (Kwan Tee- Kwan Kong_Hokkian).
Tian shang Di atau Zhen Wu Da Di ditampilkan sebagai seorang dewa yang memekai pakaian perang keemasan, tangan kanannya menghunus pedang penakluk iblis, dan dengan kedua kakinya yang tanpa sepatu menginjak kura-kura dan ular, wajahnya gagah berwibawa dihias dengan jenggot panjang dan rambutnya terurai kebelakang lepas, tidak diikat atau dikonde sebagai umumnya rambut pria pada jaman itu. Patung-patung Zhen Wu yang terdapat didalam kelenteng-kelenteng digunung Wu Dang Shan semuanya juga bergaya demikian.

Cerita-cerita yang beredar dikalangan rakyat, wajah maupun bentuk tubuh patung Xuan Tian itu sesungguhnya adalah wajah kaisar yong Le dari Dinasti Ming atau yang sering disebut sebagai Ming Cheng Zu (1403-1424), sebab itu ada sebuah pemeo yang mengatakan "Patung Zhen Wu, berwajah Yong Le" menurut catatan warta dari Hubei "Patung Xuan Tian dan Kaisar Yong Le memang mempunyai kaitan yang erat, seperti diketahui pada masa permulaan Dinasti Ming, Zhu Di yang sering kali disebut sebagai pangeran Yan Wang yang berkedudukan di Beijing telah menggerakkan pasukan merebut tahta kerajaan yang pada waktu itu diduduki oleh keponakannya yaitu kaisar Hui Di. Zhu Di lalu kemudian mengangkat dirinya sebagai kaisar ke-3 Dinasti Ming dengan gelar Cheng Zu dan tahun kerajaannya diganti menjadi Yong Le yang berarti "Kegembiraan Abadi", sebab itu ia lajim disebut sebagai kaisar Yong Le. Banyak menteri yang tidak menyetujui tindakan kaisar baru ini, mereka tidak puas tapi tak berani terang-terangan mengutarakan kejengkelannya. Umumnya mereka menganut Dao Jiao (Agama Dao, Taoisme) dan memuja Xuan Tian Shang Di. Maka diam-diam mereka berdoa kepada sang dewa agar Kaisar Yong Le dihukum karena perbuatan makarnya.

Tentu saja, Kaisar Yong Le mengetahui kasak-kususk dikalangan para menteri itu, pada waktu itu memang pemujaan Xuan Tian Shang Di sangat berkembang, Kaisar memerintahkan pembangunan kelenteng secara besar-besaran di Wu Dang Shan, dan banyak patung dewa itu dibuat untuk ditempatkan disana, dalam hati sang kaisar berpikir kamu sekalian mempercayai Dewa, aku akan membuat dewa buat kalian, tak hanya membuat bahkan menjadikan diriku menjadi dewa yang kalian sembah, kalau sudah begitu aku tidak kuatir lagi kalian membangkang perintahku". Dikumpulkannya tukang-tukang pahat kenamaan diseluruh negeri dan diperintahkan membuat area Xuan Tian Shang Di, kepada mereka Kaisar berkata : "Zhen Wu adalah seorang Maha Dewa dari Kahyangan, wajahnya gagah dan berwibawa. Kalian harus berhasil mengambarkan secara tepat".

Para tukang itu kebingungan mereka belum pernah melihat rupa Xuan Tian Shang Di, bagaimana dapat mengambarkan dengan tepat, mereka mengerahkan semua kemampuan seninya untuk memahat dan akhirnya terciptalah beberapa macam sosok Xuan Tian. Umumnya mengambarkan Dewa ini sebagai seorang pria yang tampan dengan berbagai macam bentuk tubuhnya, ada yang tinggi, gagah, ada yang pendek kekar, berwajah serius atau tersenyum ramah dalam keadaan berdiri dan menghunus pedang atau duduk besila dalam semedi.
diduga kaisar tidak puas sama sekali dengan hasil pahatan mereka, bahkan menuduh mereka tidak sungguh-sungguh sehingga menjatuhkan citra Sang Dewa. Mereka semua mengalami nasib buruk, ada yang dipenjara, dibuang bahkan ada juga yang dihukum pancung.

Kaisar mendengar kabar bahwa ada seorang pemahat ulung dari suku Korea yang namanya sangat termasyur sampai kemanca negara, pemahat itu biasanya disebut Guru Ji. Tanpa menunggu lebih lama, sang Kaisar memerintahkan agar sang pemahat dipanggil, guru Ji dan para anggota keluarganya paham bahwa memenuhi panggilan Kaisar berarti suatu kepergian yang belum tentu bisa pulang dengan selamat. Tapi firman kaisar tidak dapat ditolak, maka dengan diiringi ratapan sanak keluarganya ia berangkat ke Beijing memenuhi panggilan Kaisar Yong Le. Dalam benaknya Guru Ji berfikir, Kaisar membunuh para pemahat mungkin disebabkan karena mereka tidak dapat menduga secara tepat apa yang dikehendakinya, akan kucoba menerka apa sesungguhnya yang dikehendaki Kaisar dalam pembuatan patung ini", begitulah dengan langkah yang tegap ia pergi menghadap Kaisar. Pada saat itu kebetulan kaisar sedang mandi, ketika mendengar guru Ji datang menhadap ia lalu memerintahkan agar sang pemahat langsung menemui dia dikamar mandinya, Guru Ji lalu berlutut dihadapan kaisar tanpa berani menegadahkan mukanya untuk memandang wajah sang kaisar, tapi dia berusaha untuk mangamati segala gerak-gerik Kaisar dengan cermat.

"Hamba belum pernah melihat wajah Maha Dewa Zhen Wu yang berada di Kahyangan, sedangkan manusia dibumi ini begini banyak maka sulit bagi hamba untuk memilih wajah siapa yang pantas untuk dijadikan model wajah Zhen Wu Da Di, apa daya hamba"< demikian Guru Ji berkata kepada Kaisar. "Tolol", Kaisar membentak sambil beberapa kali menghentakkan kakinya, "gunakan otakmu untuk berpikir", mendengar jawaban kaisar, mendadak seberkas sinar terang terlintas dalam benak Guru Ji, "Bukankah ia menghendaki aku memakai kakinya yang telanjang sebagai model", untuk lebih mempertegas dugaannya ia lalu berkata" Kalau hamba sudah betul-betul memahami bentuk tubuh yang akan dipahat, barulah hamba berani memahat patung itu, tapi Kaisar pura-pura seakan-akan tidak sengaja lalu memutus perkataan sang pemahat; "Menegadahlah" kali ini nada suaranya berubah agak ramah. Sekarang Guru Ji betul-betul telah paham maksud Kaisar, nyalinya menjadi besar, ditegadahkannya kepalanya dan dilihatnya Kaisar berdiri dihadapannya. Wajahnya bundar, hidungnya besar, dan matanya agak menonjol, karena habis mandi rambutnya terurai kebelakang dan kakinya telanjang. Hati Guru Ji jelaskah sudah, tapi ia masih juga bertanya: "Wajah Zhen Wu Da Di harus hamba buat bagaimana ?" Kaisar tidak menjawab, hanya meraba-raba kepalanya sambil menepu-nepuk, isyarat ini bagi Guru Ji sudah lebih dari cukup, Ia lalu keluar dari istana dan mulai membuat model patung Xuan Tian berdasarkan keadaan kaisar Yong Le pada waktu habis mandi dan akhirnya sebuah patung perunggu yang beratnya 20.000 kati berhasil dibuat.

Begitu melihat hasil buatan Guru Ji, Kaisar tak henti-hentinya mangangguk-angguk dan memuji patung Zhen Wu yang satu ini sungguh-sungguh bagus dan sesuai dengan kehendaknya. Lalu Kaisar memotong sebagian jenggotnya dan diletakkan didagu patung itu, sejak itulah kaisar Yong Le sekaligus menjadi Kaisar di dunia dan "Dewa dilangit". Orang-orang tidak berani menentangnya lagi dan patung ini sampai sekarang masih ada dikelenteng Zi Xiao Gong digunung Wu Dang. Para pematung lain kemudian menjadikan patung tersebut sebagi model patung Xuan Tuan yang baku, sehingga patung-patung yang muncul kemudian berbentuk seperti itu. Patung Xuang Tian yang kita lihat di Welahan dan kelenteng Tay Kak Sie Semarang juga bergaya demikian, hanya oleh para pemula sering ditambah mahkota dari kertas yang diganti tiap-tiap tahun.

Wu Dang Shan, gunung suci para penganut Daoisme, terletak dipropinsi Hubei, Tiongkok tengah, sejak jaman Dinasti Tang kelenteng-kelenteng sudah mulai didirikan didana, tapi pembagunan besar-besaran adalah pada masa pemerintahan Kaisar Yong Le pada jaman dinasti Ming. Tidak mengherankan karena Xuan Tian Shang Di diangkat sebagai Dewa pelindung Kerajaan. diantara kelenteng-kelenteng disana yang terkenal adalah Yu Xu Gong (Giok Hi Kiong-Hokkian) yang terletak dibagian barat laut puncak utama Wu Dang Shan, bangunannya bergaya istana Beijing lalu adalagi Yu Zhen Gong yang dibangun pada tahun Yong Le ke 15. Kelenteng ini terletak dikaki utara Wu Dang Shan, disini terdapat pemujaan dan patung Zhang San Feng (Thio Sam Hong-Hokkian) pendiri persilatan cabang Wu Dang (Bu Tong Pay-Hokkian).

Kelenteng Zi Xiao Gong terletak dipuncak timur laut, bangunan kuil inilah yang paling lengkap dan merupakan pusat dari keseluruhan rangkaian tempat ibadah digunung itu, patung perunggu Zhen Wu Da Di hasil pahatan Guru Ji itu ditempatkan disini. Dikelenteng ini anda akan melihat juga lambang gunung Wu Dang Shan yaitu patung kura-kura dan ular, patung logam itu menggambarkan seekor kura-kura sedang dililit erat-erat oleh seekor ular. katanya sang ular bermaksud memaksa sang kura-kura memuntahkan semua isi perutnya.

Menurut kepercayaan, kura-kura itu berasal dari perut besar (maag) dan sang ular dari usus Zhen Wu, yang berubah rupa. Dikisahkan suatu ketika dalam samadhinya yang tanpa makan dan minum, Zhen Wu alias Xuan Tian merasakan usus dan lambungnya sedang bertengkar, rupanya rasa lapar yang amat sangat menyebabkan kedua organ itu saling salah menyalahkan, Zhen Wu menyadari kalau hal ini dibiarkan dapat mempengaruhi ketentraman batinnya. Dalam kejengkelannya, ia lalu membelah perutnya dan mengeluarkan kedua anggota badan itu, lalu dilemparkan ke rerumputan dibelakangnya, kemudian seperti tanpa terjadi sesuatu ia melanjutkan samadhinya.

Sang perut besar (lambung) dan usus karena tiap hari mendengarkan Zhen Wu membaca ayat-ayat suci Dao, lama kelamaan memiliki tenaga gaib juga, keduanya lalu berubah jadi kura-kura dan ular dan menyelinap turun gunung untuk memakan ternak dan juga manusia. Zhen Wu yang telah menjadi dewa sangat murka akan kejadian ini, dengan pedang terhunus dan mengendarai awan ia turun gunung, tebasan pedangnya dipunggung sang kura-kura meninggalkan bekas sampai sekarang, sejak itu punggung kura-kura tampak guratan-guratan seperti bekas tebasan pedang. Dengan tali wasiat diikatnya leher sang ular, sehingga sejak itu leher ular menjadi lebih kecil dari tubuhnya.

Kura-kura dan ular setelah ditaklukkan memperoleh pangkat "Erjiang" yang berarti "dua panglima" dan menjadi landasan tempat duduk Zhen Wu, tapi sang kura-kura rupanya masih belum hilang watak silumannya, hal ini diketahui oleh Zhen Wu, beliau lalu memerintah sang ular melilit tubuh kura-kura erat-erat, agar segala barang yang pernah ditelannya dimuntahkan kembali, dan supaya mengungkapkan semua kejahatan yang telah dilakukannya. Patung dari kura-kura dan ular ini sampai sekarang masih ada diruang belakang kelenteng Zi Xiao Gong dan selanjutnya dijadikan logo yang melambangkan gunung Wu Dang Shan.

Masih ada satu peninggalan penting yang ada sangkut pautnya dengan Zhen Wu Da Di, yaitu sebuah sumur yang dinamakan Mo Zhen Jing (Sumur tempat mengasah jarum). Konon pada waktu Zhen Wu sedang melakukan tapa digunung ini hatinya terasa goyah, ia lalu memutuskan untuk lari meninggalkan tempat itu sampai ditepi sumur ini ia melihat seorang wanita tua sedang mengasah alu besi. Zhen Wu merasa heran lalu menanyakan apa maksud nenek itu mengasah alu besi, dengan tertawa si nenek berkata bahwa ia sedang mengasah alu untuk membuat jarum sulam, mendengar jawaban ini Zhen Wu baru menyadari maksud yang terkandung dibalik perkataan sang nenek. Segera ia kembali ke atas gunung untuk melanjutkan tapanya. Nama "mo-znen-jing" dengan demikian menjadi terkenal. Kini didekat sumur itu dibangun ragon dan patung seorang nenek tua yang mengasah alu.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More